Mentok – Sejumlah nelayan dan warga pesisir kembali menyuarakan keresahan terhadap aktivitas tambang timah ilegal di perairan Kranggan dan Tembelok, Kabupaten Bangka Barat. Mereka berharap aparat penegak hukum tidak hanya menindak pelaku yang telah diamankan sebelumnya, tetapi juga mengusut pihak-pihak lain yang diduga mengendalikan aktivitas tambang tersebut.
Berdasarkan hasil penelusuran dan keterangan sejumlah narasumber, aktivitas tambang ilegal di kawasan tersebut disebut telah berlangsung cukup lama dan dinilai berdampak terhadap kondisi laut serta aktivitas nelayan.
Dalam investigasi lapangan, tim media mengaku memperoleh rekaman yang memperlihatkan dugaan tindakan arogan dari seseorang yang disebut sebagai pengurus tambang. Saat ditemui, orang tersebut diduga melontarkan ucapan bernada tinggi kepada tim yang menyamar sebagai nelayan dengan kalimat, "Kau nek ngape?" Rekaman tersebut diklaim tersimpan sebagai bagian dari dokumentasi investigasi.
Masyarakat berharap Kapolres Bangka Barat,Ibu Helen Simanjuntak.S.I.K,S.H,M.H,Menindaklanjuti laporan dan keluhan warga secara menyeluruh. Mereka meminta pemberantasan premanisme tidak hanya dilakukan di darat, tetapi juga di wilayah perairan Kranggan dan Tembelok yang dinilai masih rawan praktik intimidasi.
Ironisnya, beberapa nelayan mengaku tidak sepenuhnya menolak keberadaan aktivitas tambang karena selama ini mereka berharap memperoleh bantuan berupa pasir timah dari para penambang. Namun, mereka menyesalkan apabila praktik tersebut disertai tindakan intimidatif dan arogansi terhadap masyarakat kecil.
"Kami hanya ingin diperlakukan dengan baik. Jangan ada yang merasa paling berkuasa di laut ini," ujar salah seorang warga kepada tim investigasi.
Warga kini berharap aparat penegak hukum mengusut seluruh pihak yang diduga terlibat dalam aktivitas tambang ilegal maupun dugaan tindakan premanisme, sehingga penegakan hukum tidak berhenti pada pelaku yang telah ditangkap sebelumnya.
Eko P




